Link Banner
Siti Zuhro Puji Gagasan NH-Aziz Soal Pendidikan Politik dan Pencerahan Demokrasi

Siti Zuhro Puji Gagasan NH-Aziz Soal Pendidikan Politik dan Pencerahan Demokrasi

SHARE:

Jakarta — Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, memuji gagasan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, N...

Begini Sosok NH-Aziz di Mata Sekjen Kerukunan Keluarga Luwu Raya
Wahyuddin Bandung : NH-Aziz Pasangan Paling Komplit
Hidup Sehat, NH Senam Bareng Warga Biringkanaya

Jakarta — Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, memuji gagasan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), ihwal pendidikan politik dan pencerahan demokrasi. Kata dia, upaya pasangan nomor urut satu menjadikan parpol sebagai pilar utama demokrasi sangat menarik dan patut ditunggu implementasinya bila kelak terpilih memimpin Sulsel.

“Menarik sekali jawaban NH-Aziz untuk menjadikan parpol sebagai pilar demokrasi,” ujar Siti Zuhro, seusai melontarkan pertanyaan implementasi program kandidat ihwal upaya meningkatkan indeks demokrasi dan partisipasi pemilih Sulsel pada program acara ‘Kupas Kandidat’ di TVRI, Senin (30/4) malam.

NH sendiri memberikan pemaparan komprehensif perihal situasi politik dan upaya meningkatkan kualitas demokrasi, khususnya di Sulsel. Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar ini memulai penjelasannya perihal fluktuasi indeks demokrasi di Sulsel dipengaruhi berbagai faktor. Tiap pesta demokrasi, apakah itu Pileg, Pilpres dan Pilkada Serentak, kata dia, selalu berbeda tingkat partisipasinya.

“Kalau kita cermati, indeks demokrasi Sulsel membaik pada 2014 itu karena ada Pilpres, dimana Pak JK (Jusuf Kalla) merupakan kandidat, ada kedekatan (sehingga tingkat partisipasi pemilih naik). Lalu, pada 2015-2016 (pilkada serentak) itu menurun saat mulai diterapkannya Pilkada Serentak, di situ terjadi gesekan,” terang politisi senior Golkar ini.

Fluktuasi partisipasi pemilih ataupun indeks demokrasi, NH menyebut merupakan tantangan bagi kepala daerah maupun pimpinan parpol. Olehnya itu, NH-Aziz mengusung konsep tersendiri guna membenahi kualitas demokrasi. Caranya, menjadikan parpol sebagai pilar demokrasi, bukan semata kendaraan politik. Bila hanya untuk kepentingan sesaat, muaranya malah melahirkan praktik transaksional.

“Konsep ke depan, ya harus menjadikan parpol sebagai pilar demokrasi, kandidat tidak boleh semata menjadikan parpol sebagai kendaraan politik,” ucapnya.

Tidak kalah penting, NH menyebut parpol harus menjadikan kaderisasi menjadi acuan utama untuk merealisasikan pilar demokrasi. Dalam pesta demokrasi, ia melanjutkan parpol pun sejatinya menjadi instrumen pemenangan utama, dimana pengurus dan kader parpol harus dekat dengan rakyat melalui program-program yang memang berpihak kepada wong cilik.

“Selanjutnya, juga penting pendidikan politik, harus mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat, sehingga ada kesadaran,” tutur NH.

Menurut Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia ini, pada pilkada atau pesta demokrasi apapun, rakyatlah yang berdaulat. Olehnya itu, penting pula untuk mendorong masyarakat memilih dengan nurani, jangan mau diintervensi atau digoda dengan iming-iming materi. Adapun kandidat pun mestinya tidak lagi bergulat pada upaya saling menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara.

“Berikan pencerahan demokrasi, caranya ya saling adu gagasan dan program, bukan adu otot dan lainnya,” pungkas NH. (**)

Link Banner

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0