Link Banner
Awali Debat Kandidat III, NH: Siri’ Saya Angkat Harkat dan Martabat Sulsel

Awali Debat Kandidat III, NH: Siri’ Saya Angkat Harkat dan Martabat Sulsel

SHARE:

Jakarta — Calon Gubernur Sulsel Nurdin Halid mengawali debat kandidat tiga dengan tampil percaya diri. Berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzakkar,...

Sulsel Rumah bagi Seluruh Golongan Jadi Mimpi NH-Aziz
Perhatian dengan Toraja, Ratusan Warga Tondon Inginkan NH Jadi Gubernur
Cegah KKN, NH-Aziz Siap Terapkan e-Planning dan e-Budgeting

Jakarta — Calon Gubernur Sulsel Nurdin Halid mengawali debat kandidat tiga dengan tampil percaya diri. Berpasangan dengan Aziz Qahhar Mudzakkar, NH mengawali pernyataan pertamanya tentang sejarah dan peradaban Sulawesi Selatan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki sejarah peradaban. Sejarah peradaban Sulawesi Selatan telah mencapai kejayaan di masa lalu,” ucap Nurdin Halid menceritakan kejayaan Sulsel.

Makassar, kata dia, merupakan salah satu bandar laut terbesar di Asia Tenggara. Perahu Pinisi telah menjelajah sampai ke Madagaskar.

“Kita pernah memiliki Karaeng Pattingaloang, seorang ahli perbintangan yang menguasai 12 bahasa. Kita memiliki Aksara lontara sebagai warisan budaya terbesar bagi kita. Demikian pula dengan Lagaligo, yang merupakan naskah terpanjang didunia, melebihi mahabarata dari India,” tuturnya.

Saudagar Bugis-Makassar, menurutnya,telah bertebaran di seantero Nusantara, bahkan dunia. “Dimana ada tambatan perahu, disitu orang Sulawesi Selatan bermukim”.

Ia mengatakan, pencapaian itu, tentu saja karena tuntunan oleh nilai-nilai kearifan lokal, siri’ na pacce, macca na warani, magetteng na malempu. Nilai-nilai itu, sejalan dengan prinsip hablun minallah – habluminannas, kasih dan dharma.

“Nilai-nilai kearifan lokal ini menjadi sumber nilai, bukan saja untuk memperkuat ideologi Pancasila, tetapi juga sebagai perekat yang memperkokoh NKRI. Nilai-nilai yang tak lekang oleh panas, dan tak lapuk oleh hujan,” ujarnya.

“Siri’ saya, untuk mengangkat harkat dan martabat saudara-saudara kita, menuju masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera dan religius. Karena kata pepatah, Hujan emas di kampung orang, hujan batu di kampung sendiri, lebih baik pulang untuk membangun kampung sendiri,” tegasnya menambahkan.

Link Banner

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0